Menggembleng anak dalam jumlah jutaan semacam itu jelas bukan persoalan yang mudah. Apalagi, mereka tersebar di berbagai wilayah teritorial yang beragam karakter dan latar belakang sosialnya. Ada kesenjangan yang begitu lebar antara kota dan desa. Kompetensi gurunya pun jelas mengalami ketimpangan karena faktor fasilitas dan kemudahan mengakses informasi dan keilmuan. Mereka yang tinggal di kota jelas memiliki kemudahan dalam memutakhirkan pengetahuan dan keilmuan melalui akses media publik semacam internet. Sementara itu, yang tinggal di daerah pedesaan dan pedalaman? Atau, yang lebih tragis, mereka yang tinggal di kawasan yang masuk kategori terpencil? Alih-alih memutakhirkan ilmu, bisa konsisten mengasah kerak ilmu yang memfosil dalam tempurung kepala saja sudah termasuk layak dikagumi.
Alangkah cerahnya masa depan negeri ini jika anak-anak dusun dan pelosok yang sekarang tengah gencar memburu ilmu di bangku sekolah mendapat bekal keilmuan yang sama dengan saudara-saudaranya yang tinggal di kota. Harapan itu bisa terwujud jika mereka mendapatkan layanan pendidikan yang baik dan bermutu.
Saya jadi berkhayal. Ketika anak-anak belajar, mereka tidak lagi dicekoki oleh suara guru yang seringkali terdengar sumbang, bahkan seringkali mengindoktrinasi siswa didiknya melalui pendekatan behaviouristik yang cenderung memperlakukan siswa sebagai objek yang tak tahu apa-apa. Mereka juga tidak rawan kena TBC akibat terlalu banyak menyedot serbuk kapur tulis yang memenuhi ruang kelas yang pengap dan sumpek.
Alangkah menarik dan menyenangkan kalau setiap hari anak-anak bisa belajar secara leluasa, tanpa dibatasi oleh empat dinding “penjara” kelas. Mereka bisa mengakses informasi dan pengetahuan melalui aktivitas surfing di internet. Dalam mengerjakan tugas, mereka tak lagi menghabiskan banyak duit untuk beli kertas dan alat tulis. Mereka cukup duduk di depan layar monitor, menjawab tugas dari blog gurunya, lantas mengumpulkannya melalui attachment file ke alamat e-mail gurunya. Otak mereka dipenuhi dengan informasi dan pengetahuan baru yang mereka update lewat surfing di internet, menjelajahi situs dan blog yang sarat dengan ranah ilmu yang mencerahkan. Aktivitas pembelajaran jadi lebih aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Guru pun juga senantiasa tertantang untuk selalu meng-update wawasan keilmuan.
Sayangnya, khayalan semacam itu hanya bisa mengendap di lorong imajinasi saya. Secara jujur mesti diakui, dunia pendidikan kita masih amat miskin sentuhan pembelajaran elektronik (e-learning). Boro-boro siswa yang tinggal di pelosok-pelosok dusun, para siswa yang tinggal di kota pun belum semuanya mampu bersentuhan dengan internet.
www.google.com

gimana sekarang keadaan desa cibiyuk? salam kenal dari wong pontong kidul
BalasHapus